SAKAROTUL MAUT

SAKAROTUL MAUT

oleh : Wahyudi Hermawan

Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, kemanapun manusia berlari dan bersembunyi, atau dia  bersembunyi di balik benteng yang tebal dan kuat sekalipun,  manusia tidak akan dapat  menghindari kematian, kematian akan datang menjemput juga tanpa dia bisa mengelak darinya.

Hari ini, anda dan saya yang tengah merawat begitu banyaknya manusia yang tengah terbaring sakit, tergolek lemah dan tidak berdaya, pernahkan kita menyadari bahwa sebenarnya kita begitu dekatnya dengan kematian, Allah SWT begitu sayangnya kepada kita dengan setiap saat memperlihatkan bagaimana manusia berguguran dijemput oleh kematian.

Tetapi apa yang terjadi, semuanya berlalu begitu saja,….tanpa makna yang sedikitpun singgah dalam pikiran kita, seolah kita akan hidup selama-lamanya. Sahabat, coba kembali perhatikan bagaimana tanda-tanda kematian perlahan-lahan tapi pasti bermunculan pada diri kita…..dulu  ketika kita masih kecil, rasanya kulit kita begitu mulusnya, nyaris tidak tampak lipatan sedikitpu.  Sekarang coba perhatikan di dahi anda dengan seksama, coba perhatikan kantung mata anda dengan seksama, coba perhatikan rambut anda dengan seksama, coba perhatikan garis-garis halus di punggung tanggan anda dengan seksama, untuk para ibu, coba perhatikan kerutan di perut ibu dengan seksama…..adakah sesuatu yang telah berubah……

Ah.. cobalah dengan sepenggal  syair dari nasyid di bawah ini, saya sendiri lupa ini nasyid siapa, tetapi  kata-katanya membekas dan seperti tidak bisa saya lupakan, tetapi mudah-mudahan saya tidak salah ini adalah nasyid dari arqom yang dilantunkan oleh umam …coba simak isinya dengan seksama….

Bila Izro’il datang memanggil

Jasad terbujur di pembaringan

Seluruh tubuh akan menggigil

Sekujur badan kan kedinginan

Bila masanya insyaflah diri

Selimut putih membalut badan

Meninggalkan semua yang dikasihi

Berjuanglah  hidup sepanjang zaman

Bila masanya insyaflah diri

Selimut putih membalut badan

Sadarlah diri, tahu di untung

Sebelum masa keranda di usung.

Sadarlah diri, tahu diuntung

Sebelum  masa keranda di usung.

Pesannya kurang lebih  adalah bahwa sudahkah kita membenahi diri kita, tidak sadarkah kita bahwa kita akan bertemu dengan suatu masa dimana kita akan dibalut oleh sehelai kain kafan putih, dan diusung di dalam keranda menuju tempat yang sunyi gelap dan sendirian, semua orang yang kita cintai, semua hal yang kita banggakan akan meninggalkan kita dan mungkin melupakan kita, semuanya terputus……hanya kita dan amal perbuatan kitalah yang selalu terhubung dengan eratnya sebagai saksi  bentuk kehidupan kita di dunia.

Sahabatku para perawat yang kini dengan sentuhan kasih sayangnya telah ikhlas membantu saudaranya yang  tengah menderita, tergolek lemah di pembaringan mendapatkan ujian sakit  dari yang ringan hingga berat , marilah kita  bertafakur membaca setiap pesan yang Allah sampaikan kepada kita, sehingga kita bisa saling mengingatkan untuk selalu mendekatkan diri kita  kepada-Nya.

Tinggalkan komentar