PERAWATAN PASIEN GAGAL NAFAS


Oleh : Wahyudi Hermawan

RENUNGAN

Dalam satu menit manusia normal  menghirup udara dengan paru-parunya  12-20 kali yang tentunya akan dia dapatkan Cuma-Cuma atau gratis dari alam bebas, dalam satu jam berarti 20 X 60 kali, dalam satu hari berarti 12 X 60 X 24 kali, dalam satu bulan berarti 12 X 60 X 24 X 30 kali, dalam satu tahun berarti 12 X 60 X 24 X 30 X12.

Berapakah usia anda sekarang, jika anda ingin tahu berapa ribu kali paru-paru anda mengambil udara dari alam bebas selama hidup anda sampai saat  anda membaca artikel ini silahkan hitung dengan cara  12 X 60 X 24 X 30 X 12 X usia anda.

Berat sekali kerja paru-paru kita ini ya…. Dan andai saja paru-paru ini meminta satu jam saja untuk sekedar beristirahat…..maka akan terjadi masalah dalam hidup kita….mengapa ?

Lima detik otak kekurangan oksigen = manusia pingsan

Lima menit otak kekurangan oksigen = manusia mati

Betapa lemahnya diri kita ini, dan apa sebenarnya yang dapat membuat kita sombong.

Dalam kondisi nyata, seringkali paru-paru mengalami banyak gangguan dalam  melaksanakan fungsinya, dari mulai gangguan ringan berupa batuk pilek alergi, sampai dengan gangguan berat yang sering disebut gagal nafas atau distress pernafasan.

Satu hal yang harus kita syukuri hari ini adalah ….kita masih merasakan betapa segarnya udara di pagi hari, betapa bebasnya kita menghirup udara ini, indah dunia ini semakin lengkap dan terasa dengan apa yang kita miliki hari ini.

Marilah kita jaga paru-paru ini dengan sebaik-baiknya kawan.

PENGERTIAN

  • Gagal nafas adalah ketidakmampuan sistem pernafasan untuk mempertahankan oksigenasi darah normal (PaO2), eliminasi karbon dioksida (PaCO2) dan pH yang adekuat disebabkanoleh masalah ventilasi difusi atau perfusi (Susan Martin T, 1997)
  • Gagal nafas adalah kegagalan sistem pernafasan untuk mempertahankan pertukaran oksigen dankarbondioksida dalam jumlah yangdapat mengakibatkan gangguan pada kehidupan (RS Jantung “Harapan Kita”, 2001)
  • Gagal nafas terjadi bilamana pertukaran oksigen terhadap karbondioksida dalam paru-paru tidak dapat memelihara laju komsumsi oksigen dan pembentukan karbon dioksida dalam sel-sel tubuh. Sehingga menyebabkan tegangan oksigen kurang dari 50 mmHg (Hipoksemia) dan peningkatan tekanan karbondioksida lebih besar dari 45 mmHg (hiperkapnia). (Brunner & Sudarth, 2001)

PATOFISIOLOGI
Gagal nafas ada dua macam yaitu gagal nafas akut dan gagal nafas kronik dimana masing masing mempunyai pengertian yang bebrbeda. Gagal nafas akut adalah gagal nafas yang timbul pada pasien yang parunya normal secara struktural maupun fungsional sebelum awitan penyakit timbul. Sedangkan gagal nafas kronik adalah terjadi pada pasien dengan penyakit paru kronik seperti bronkitis kronik, emfisema dan penyakit paru hitam (penyakit penambang batubara). Pasien mengalalmi toleransi terhadap hipoksia dan hiperkapnia yang memburuk secara bertahap. Setelah gagal nafas akut biasanya paru-paru kembali ke keadaan asalnya.  Pada gagal nafas kronik struktur paru alami kerusakan yang ireversibel.

Indikator gagal nafas adalah frekuensi pernafasan dan kapasitas vital, frekuensi penapasan normal ialah 16-20 x/mnt. Bila lebih dari20x/mnt tindakan yang dilakukan memberi bantuan ventilator karena “kerja pernafasan” menjadi tinggi sehingga timbul kelelahan. Kapasitas vital adalah ukuran ventilasi (normal 10-20 ml/kg).
Gagal nafas penyebab terpenting adalah ventilasi yang tidak adekuat dimana terjadi obstruksi jalan nafas atas.

Pusat pernafasan yang mengendalikan pernapasan terletak di bawah batang otak (pons dan medulla). Pada kasus pasien dengan anestesi, cidera kepala, stroke, tumor otak, ensefalitis, meningitis, hipoksia dan hiperkapnia mempunyai kemampuan menekan pusat pernafasan. Sehingga pernafasan menjadi lambat dan dangkal.

Pada periode post operatif dengan anestesi bisa terjadi pernafasan tidak adekuat karena terdapat agen menekan pernafasan denganefek yang dikeluarkanatau dengan meningkatkan efek dari analgetik opiood. Pnemonia atau dengan penyakit paru-paru dapat mengarah ke gagal nafas akut.

ETIOLOGI

1. Depresi Sistem saraf pusat

    Mengakibatkan gagal nafas karena ventilasi tidak adekuat. Pusat pernafasan yang mengendalikan pernapasan, terletak dibawah batang otak (pons dan medulla) sehingga pernafasan lambat dan dangkal.

    2. Kelainan neurologis primer

      Akan memperngaruhi fungsi pernapasan. Impuls yang timbul dalam pusat pernafasan menjalar melalui saraf yang membentang dari batang otak terus ke saraf spinal ke reseptor pada otot-otot pernafasan. Penyakit pada saraf seperti gangguan medulla spinalis, otot-otot pernapasan atau pertemuan neuromuslular yang terjadi pada pernapasan akan sangat mempengaruhi ventilasi.

      3. Efusi pleura, hemotoraks dan pneumothoraks

        Merupakan kondisi yang mengganggu ventilasi melalui penghambatan ekspansi paru. Kondisi ini biasanya diakibatkan penyakti paru yang mendasari, penyakit pleura atau trauma dan cedera dan dapat menyebabkan gagal nafas.

        4. Trauma

          Disebabkan oleh kendaraan bermotor dapat menjadi penyebab gagal nafas. Kecelakaan yang mengakibatkan cidera kepala, ketidaksadaran dan perdarahan dari hidung dan mulut dapat mengarah pada obstruksi jalan nafas atas dan depresi pernapasan. Hemothoraks, pnemothoraks dan fraktur tulang iga dapat terjadi dan mungkin meyebabkan gagal nafas. Flail chest dapat terjadi dan dapat mengarah pada gagal nafas. Pengobatannya adalah untuk memperbaiki patologi yang mendasar

          5. Penyakit akut paru

            Pnemonia disebabkan oleh bakteri dan virus. Pnemonia kimiawi atau pnemonia diakibatkan oleh mengaspirasi uap yang mengiritasi dan materi lambung yang bersifat asam. Asma bronkial, atelektasis, embolisme paru dan edema paru adalah beberapa kondisi lain yang menyababkan gagal nafas.

            TANDA DAN GEJALA

            1. Tanda

            Gagal nafas total

            • Aliran udara di mulut, hidung tidak dapat didengar/dirasakan.
            • Pada gerakan nafas spontan terlihat retraksi supra klavikuladan sela iga serta tidak ada pengembangan dada pada inspirasi
            • Adanya kesulitan inflasi parudalam usaha memberikan ventilasi buatan

            Gagal nafas parsial

            • Terdenganr suara nafas tambahan gargling, snoring, Growing dan whizing.
            • Ada retraksi dada

            2. Gejala

              • Hiperkapnia yaitu penurunan kesadaran (PCO2)
              • Hipoksemia yaitu takikardia, gelisah, berkeringat atau sianosis (PO2 menurun)

              DIAGNOSA KEPERAWATAN

              • Pola nafas tidak efektif b.d. penurunan ekspansi paru

              Tujuan :
              Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien dapat mempertahankan pola pernapasan yang efektif
              Kriteria Hasil :

              Pasien menunjukkan
              • Frekuensi, irama dan kedalaman pernapasan normal
              • Adanya penurunan dispneu
              • Gas-gas darah dalam batas normal
              Intervensi :
              • Kaji frekuensi, kedalaman dan kualitas pernapasan serta pola pernapasan.
              • Kaji tanda vital dan tingkat kesasdaran setaiap jam dan prn
              • Monitor pemberian trakeostomi bila PaCo2 50 mmHg atau PaO2< 60 mmHg
              • Berikan oksigen dalam bantuan ventilasi dan humidifier sesuai dengan pesanan
              • Pantau dan catat gas-gas darah sesuai indikasi : kaji kecenderungan kenaikan PaCO2 atau kecendurungan penurunan PaO2
              • Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi nafas setiap 1 jam
              • Pertahankan tirah baring dengan kepala tempat tidur ditinggikan 30 sampai 45 derajat untuk mengoptimalkan pernapasan
              • Berikan dorongan utnuk batuk dan napas dalam, bantu pasien untuk mebebat dada selama batuk
              • Instruksikan pasien untuk melakukan pernapasan diagpragma atau bibir
              • Berikan bantuan ventilasi mekanik bila PaCO > 60 mmHg. PaO2 dan PCO2 meningkat dengan frekuensi 5 mmHg/jam. PaO2 tidak dapat dipertahankan pada 60 mmHg atau lebih, atau pasien memperlihatkan keletihan atau depresi mental atau sekresi menjadi sulit untuk diatasi.

              • Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan abnormalitas ventilasi-perfusi sekunder terhadap hipoventilasi

              Tujuan :
              Setelah diberikan tindakan keperawatan pasien dapat mempertahankan pertukaran gas yang adekuat
              Kriteria Hasil :
              Pasien mampu menunjukkan :
              • Bunyi paru bersih
              • Warna kulit normal
              • Gas-gas darah dalam batas normal untuk usia yang diperkirakan
              Intervensi :
              • Kaji terhadap tanda dan gejala hipoksia dan hiperkapnia
              • Kaji TD, nadi apikal dan tingkat kesadaran setiap[ jam dan prn, laporkan perubahan tinmgkat kesadaran pada dokter.
              • Pantau dan catat pemeriksaan gas darah, kaji adanya kecenderungan kenaikan dalam PaCO2 atau penurunan dalam PaO2
              • Bantu dengan pemberian ventilasi mekanik sesuai indikasi, kaji perlunya CPAP atau PEEP.
              • Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi nafas setiap jam
              • Tinjau kembali pemeriksaan sinar X dada harian, perhatikan peningkatan atau penyimpangan
              • Pantau irama jantung
              • Berikan cairan parenteral sesuai pesanan
              • Berikan obat-obatan sesuai pesanan : bronkodilator, antibiotik, steroid.
              • Evaluasi AKS dalam hubungannya dengan penurunan kebutuhan oksigen.

              • Kelebihan volume cairan b.d. edema pulmo

              Tujuan :
              Setelah diberikan tindakan perawatan pasien tidak terjadi kelebihan volume cairan
              Kriteria Hasil :
              Pasien mampu menunjukkan:
              • TTV normal
              • Balance cairan dalam batas normal
              • Tidak terjadi edema
              Intervensi :
              • Timbang BB tiap hari
              • Monitor input dan output pasien tiap 1 jam
              • Kaji tanda dan gejala penurunan curah jantung
              • Kaji tanda-tanda kelebihan volume : edema, BB , CVP
              • Monitor parameter hemodinamik
              • Kolaburasi untuk pemberian cairandan elektrolit

              • Gangguan perfusi jaringan b.d. penurunan curah jantung

              Tujuan :
              Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien mampu mempertahankan perfusi jaringan.
              Kriteria Hasil :
              Pasien mampu menunjukkan
              • Status hemodinamik dalam bata normal
              • TTV normal
              Intervensi :
              • Kaji tingkat kesadaran
              • Kaji penurunan perfusi jaringan
              • Kaji status hemodinamik
              • Kaji irama EKG
              • Kaji sistem gastrointestinal

              Daftar pustaka

              Hudak and Gallo, (1994), Critical Care Nursing, A Holistic Approach, JB Lippincott company, Philadelpia.

              Marilynn E Doengoes, et all, alih bahasa Kariasa IM, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, EGC, Jakarta.

              Reksoprodjo Soelarto, (1995), Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Binarupa Aksara, Jakarta.

              Suddarth Doris Smith, (1991), The lippincott Manual of Nursing Practice, fifth edition, JB Lippincott Company, Philadelphia.

              2 Komentar

              1. JOY said,

                Desember 13, 2009 pada 7:46 am

                Subhanalloh, Maha Suci Alloh, rahasia yang tidak setiap insan mengetahui, dan menyadari, demikian ke Maha Kemurahan Alloh terhadap hamba-2 yang dhoif, yang lemah, namun sebagian mereka merasa perkasa, kuat dan satu lagi sombong dan angkuh. Namun semua itu akan sadar-se-sadar-2nya, bila yang
                namanya paru-2nya sedikit dibuntu, dg ke-Agungan Nya. Terima kasih, ini semua mengingatkan kita semua akan harga kehidupan, dengan mrngingat Maha Kasih dan Sayang Alloh SWT. Semoga menambah keimanan dan kesetiaan kita kepada Yang Maha Agung. Allohuakbar.

              2. suci raffa said,

                Mei 2, 2010 pada 4:36 pm

                saya baru liat profil ini. membuat saya semakin paham apa itu tugas perawat sebenarnya. tapi sejujurnya saya ingin tahu bagai mana cara merawat pasien dengan gangguan jiwa? mudah- mudahan ilmu yang saya terima saat ini bermanfaat untuk kinerja saya nanti setelah lulus. Amiin


              Tinggalkan Balasan

              Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

              Logo WordPress.com

              You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

              Gambar Twitter

              You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

              Foto Facebook

              You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

              Foto Google+

              You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

              Connecting to %s

              %d blogger menyukai ini: