PERAWATAN PASIEN DIARE

DIARE

Oleh : Wahyudi Hermawan

Renungan

Pernahkan kita menyadari bahwa  hidup manusia  sangat tergantung pada air, dan sebagian besar  tubuh kita adalah air.  Begitu pentingnya air bagi tubuh manusia maka kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dengan air. Hal ini dapat dibuktikan bahwa di seluruh planet yang ada di jagat raya ini, hanya di bumilah yang terdapat kehidupan. Mengapa ? karena bumi memiliki satu senyawa yang disebut dengan H2O atau air, dari air inilah  kehidupan dimulai.

Mudah bagi Allah untuk menghancurkan kesombongan manusia yang seolah-olah adalah  mahluk yang paling hebat dan kuat, padahal sebenarnya adalah mahluk lemah yang hanya dengan mahluk kecil saja yang bernama Eschercia Coli, manusia tidak berdaya karena E. Coli yang berlebih di dalam system pencernaan manusia akan mengakibatkan diare atau  sering kita sebut mencret yang apabila dibiarkan akan mengakibatkan kekurangan cairan pada tubuh manusia yang sering disebut dehidrasi. Sebenarnya dalam jumlah tertentu bakteri E Coli ini  sangat berguna bagi tubuh manusia khususnya dalam proses pembusukan makanan di dalam usus, tetapi akan menjadi ancaman apabila perkembangannya melewati batas toleransi tubuh manusia dalam menerimanya.

Masihkah kita akan tetap sombong ?

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. ( Al A’raaf : 57)

Kehilangan air dalam tubuh ini sudah akan membuat kita lemah….bayangkan seandainya Allah meniadakan awan dan hujan di tempat kita berada ini…apakah kita masih bias hidup ?

Di bawah ini adala beberapa penjelasan dan intervensi keperawatan yang berhubungan dengan diare, selamat membaca dan semoga kita semua menjadi manusia yang pandai bersyukur.

Pengertian  Diare

Menurut Haroen N, S. Suraatmaja dan P.O Asdil (1998), diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja.

Sedangkan menurut C.L Betz & L.A Sowden (1996) diare merupakan suatu keadaan terjadinya inflamasi mukosa lambung atau usus.

Menurut Suradi & Rita (2001), diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau cair.

Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak normal yaitu lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus.

Penyebab

Menurut Haroen N.S, Suraatmaja dan P.O Asnil (1998), ditinjau dari sudut patofisiologi, penyebab diare akut dapat dibagi dalam dua golongan yaitu:

  • Diare sekresi (secretory diarrhoe), disebabkan oleh:
  • Infeksi virus, kuman-kuman patogen dan apatogen seperti shigella, salmonela, E. Coli, golongan vibrio, B. Cereus, clostridium perfarings, stapylococus aureus, comperastaltik usus halus yang disebabkan bahan-bahan kimia makanan (misalnya keracunan makanan, makanan yang pedas, terlalau asam), gangguan psikis (ketakutan, gugup), gangguan saraf, hawa dingin, alergi dan sebagainya.
  • Defisiensi imum terutama SIGA (secretory imonol bulin A) yang mengakibatkan terjadinya berlipat gandanya bakteri/flata usus dan jamur terutama canalida.
  1. Diare osmotik (osmotik diarrhoea) disebabkan oleh:
  • malabsorpsi makanan: karbohidrat, lemak (LCT), protein, vitamin dan mineral.
  • Kurang kalori protein.
  • Bayi berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir.

Patofisiologi

Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah yang pertama gangguan osmotik, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.

Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.

Ketiga gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.

Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.

Akibat / Dampak dari Diare

1. Kehilangan air (dehidrasi)

Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari pemasukan (input), merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare. Gangguan keseimbangan asam basa (metabik asidosis)

Hal ini terjadi karena kehilangan Na-bicarbonat bersama tinja. Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda kotor tertimbun dalam tubuh, terjadinya penimbunan asam laktat karena adanya anorexia jaringan. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria) dan terjadinya pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler kedalam cairan intraseluler.

2. Hipoglikemia

Hipoglikemia terjadi pada 2-3% anak yang menderita diare, lebih sering pada anak yang sebelumnya telah menderita KKP. Hal ini terjadi karena adanya gangguan penyimpanan/penyediaan glikogen dalam hati dan adanya gangguan absorbsi glukosa.Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun hingga 40 mg% pada bayi dan 50% pada anak-anak. Gangguan gizi

3. Terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat, hal ini disebabkan oleh:

  • Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare atau muntah yang bertambah hebat.
  • Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengeluaran dan susu yang encer ini diberikan terlalu lama.
  • Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik karena adanya hiperperistaltik.

4. Gangguan sirkulasi

Sebagai akibat diare dapat terjadi renjatan (shock) hipovolemik, akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan perdarahan otak, kesadaran menurun dan bila tidak segera diatasi klien akan meninggal.

Manifestasi Klinis Diare

  1. Mula-mula anak/bayi cengeng gelisah, suhu tubuh mungkin meningkat, nafsu makan berkurang.
  2. Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer, kadang disertai wial dan wiata.
  3. Warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu.
  4. Anus dan sekitarnya lecet karena seringnya difekasi dan tinja menjadi lebih asam akibat banyaknya asam laktat.
  5. Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelas (elistitas kulit menurun), ubun-ubun dan mata cekung membran mukosa kering dan disertai penurunan berat badan.
  6. Perubahan tanda-tanda vital, nadi dan respirasi cepat tekan darah turun, denyut jantung cepat, pasien sangat lemas, kesadaran menurun (apatis, samnolen, sopora komatus) sebagai akibat hipovokanik.
  7. Diuresis berkurang (oliguria sampai anuria).
  8. Bila terjadi asidosis metabolik klien akan tampak pucat dan pernafasan cepat dan dalam. (Kusmaul).

Komplikasi Diare

  1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).
  2. Renjatan hipovolemik.
  3. Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi, perubahan pada elektro kardiagram).
  4. Hipoglikemia.
  5. Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan vili mukosa, usus halus.
  6. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.
  7. Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami kelaparan.

Derajat dehidrasi

Menurut banyaknya cairan yang hilang, derajat dehidrasi dapat dibagi berdasarkan:

  • Kehilangan berat badan
  • Tidak ada dehidrasi, bila terjadi penurunan berat badan 2,5%.
  • Dehidrasi ringan bila terjadi penurunan berat badan 2,5-5%.
  • Dehidrasi berat bila terjadi penurunan berat badan 5-10%

Intervensi Keperawatan

Masalah klien diare yang perlu diperhatikan ialah resiko terjadinya gangguan sirkulasi darah, kebutuhan nutrisi, resiko komplikasi, gangguan rasa aman dan nyaman, kurangnya pengetahuan orang tua mengenai proses penyakit.

Mengingat diare sebagian besar menular, maka perlu dilakukan penataan lingkungan sehingga tidak terjadi penularan pada klien lain.

  • Data fokus
  • Hidrasi
  • Turgor kulit
  • Membran mukosa
  • Asupan dan haluaran
  • Abdomen
  • Nyeri
  • Kekauan
  • Bising usus
  • Muntah-jumlah, frekuensi dan karakteristik
  • Feses-jumlah, frekuensi, dan karakteristik
  • Kram
  • Tenesmus
  • Diagnosa keperawatan
  • Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan ketidakseimbangan antara intake dan out put.
  • Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kontaminasi usus dengan mikroorganisme.
  • Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi yang disebabkan oleh peningkatan frekuensi BAB.
  • Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, tidak mengenal lingkungan, prosedur yang dilaksanakan.
  • Kecemasan keluarga berhubungan dengan krisis situasi atau kurangnya pengetahuan.
  • Intervensi
  • Tingkatkan dan pantau keseimbangan cairan dan elektrolit
  • Pantau cairan IV
  • Kaji asupan dan keluaran
  • Kaji status hidrasi
  • Pantau berat badan harian
  • Pantau kemampuan anak untuk rehidrasi
  • Melalui mulut
  • Cegah iritabilitas saluran gastro intestinal lebih lanjut
  • Kaji kemampuan anak untuk mengkonsumsi melalui mulut (misalnya: pertama diberi cairan rehidrasi oral, kemudian meningkat ke makanan biasa yang mudah dicerna seperti: pisang, nasi, roti atau asi.
  • Hindari memberikan susu produk.
  • Konsultasikan dengan ahli gizi tentang pemilihan makanan.
  • Cegah iritasi dan kerusakan kulit
  • Ganti popok dengan sering, kaji kondisi kulit setiap saat.
  • Basuh perineum dengan sabun ringan dan air dan paparkan terhadap udara.
  • Berikan salep pelumas pada rektum dan perineum (feses yang bersifat asam akan mengiritasi kulit).
  • Ikuti tindakan pencegahan umum atau enterik untuk mencegah penularan infeksi (merujuk pada kebijakan dan prosedur institusi).
  • Penuhi kebutuhan perkembangan anak selama hospitalisasi.
  • Sediakan mainan sesuai usia.
  • Masukan rutinitas di rumah selama hospitalisasi.
  • Dorong pengungkapan perasaan dengan cara-cara yang sesuai usia.
  • Berikan dukungan emosional keluarga.
  • Dorong untuk mengekspresikan kekhawatirannya.
  • Rujuk layanan sosial bila perlu.
  • Beri kenyamanan fisik dan psikologis.
  • Rencana pemulangan.
  • Ajarkan orang tua dan anak tentang higiene personal dan lingkungan.
  • Kuatkan informasi tentang diet.
  • Beri informasi tentang tanda-tanda dehidrasi pada orang tua.
  • Ajarkan orang tua tentang perjanjian pemeriksaan ulang.

DAFTAR PUSTAKA

1. Betz Cecily L, Sowden Linda A. 2002. Buku Saku Keperawatan
Pediatik, Jakarta, EGC
2. Sachasin Rosa M. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatik. Alih bahasa :
Manulang R.F. Jakarta, EGC
4. Arjatmo T. 2001. Keadaan Gawat yang mengancam jiwa, Jakarta gaya baru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: