PERAWATAN PASIEN BPH

BPH

Benigna Prostat Hiperplasia

Oleh : Wahyudi Hermawan

Renungan.

Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes, air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya). (Al Mukmin 40 : 67)

Menjadi tua adalah bagian dari  fase kehidupan yang harus  dihadapi oleh setiap manusia. Semakin tua umur manusia akan semakin tampak betapa manusia sangatlah penuh dengan keterbatasan. Salah satu masalah yang dapat kita ketahui sebagai akibat dari proses penuaan ini adalah terjadinya pembesaran kelenjar prostat yang sering disebut dengan BPH (benigna Prostat Hiperplasia).

BPH adalah pembesaran prostat yang menyumbat urethra sehingga menyebabkan gangguan urunarius. Gangguan ini terjadi sebagai akibat dari efek penuaan  pada laki-laki dan adanya androgen yang bersirkulasi.

Pengkajian

  1. Pada pembesaran prostat dini  atau tahap awal, mungkin tidak terdapat gejala karena otot detrusor dapat mengkompensasi adanya peningkatan tahanan uretral
  2. Gejala-gejala obstruktif termasuk keengganan berkemih, penurunan ukuran dan kekuatan aliran urine, pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna, retensi urine.
  3. Gejala-gejala berkemih iritatif termasuk urgensi, frekuensi, dan nokturia.
  4. Pembesaran prostat pada pemeriksaan rectal.

Intervensi Keperawatan

  1. Berikan privasi  dan waktu untuk pasien berkemih untuk memfasilitasi eliminasi urine
  2. Bantu dengan pemasangan kateter melalui selang atau sistotomi suprapubik sesuai indikasi, dan pertahankan kepatenan kateter.
  3. Kolaburasi pemberian obat-obatan dan ajarka pada pasien efek samping obat yang mungkin terjadi
  • Penyekat alfa adrenergic : hipotensi, hipotensi ortostatik, sinkope ( terutama setelah dosis pertama); impotensia, penglihatan kabur; hipertensi pantulan jika obat dihentikan tiba-tiba.
  • Finasterid (Proscar): disfungsi hepatic; impotensia; berpengaruh pada uji PSA.
  1. Kaji dan ajarkan pasien untuk melapor jika terjadi hematuria atau tanda-tanda infeksi.
  2. Waspadai dan beritahukan pada pasien obat-obatan yang dapat memperburuk obstruksi jika BPH memburuk, anti depresan, antikolinergik, dekongestan, trankuilizer, dan alcohol.
  3. Anjurkan pasien untuk melapor segera jika terjadi retensi urine
  4. Ajarkan pada pasien untuk melakukan latihan perineal (Kegel) untuk membantu memperoleh kembali control berkemih pasca pembedahan.
  5. Beritahukan pada pasien bahwa gejala berkemih iritatif tidak segera hilang setelah obstruksi dihilangkan, tetapi akan hilang sejalan dengan waktu.
  6. Beritahukan kepada pasien untuk menghindari hubungan seksual, mengejan, mengangkat beban berat, dan duduk terlalu lama, selama 6 -8 minggu setelah pembedahan sampai fossa prostat menyembuh.
  7. Anjurkan untuk melakukan pemeriksaan tindaklanjut setelah pengobatan karena striktur urethra dapat terjadi dan prostat dapat tumbuh kembali setelah reseksi transuretra.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: