PERAWATAN PASIEN ASTHMA

ASTHMA

Oleh : Wahyudi Hermawan.

Renungan

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( An Nahl 16 : 18 )

Jangan pernah menghitung nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, karena niscaya manusia tidak akan pernah mampu melakukannya. Dua hal yang sering  membuat manusia lalai. pertama adalah kesehatan dan yang kedua adalah waktu. Kesehatan akan di ingatkan dan dijagakan oleh penyakit, dan waktu akan dijagakan dan diingatkan oleh kesibukan.

Saat ini ketika begitu mudah kita menghirup udara  sebagai nikmat Allah yang  sangat berharga bagi kehidupan kita, ada saudara kita yang begitu payahnya  menghirup udara padahal oksigen begitu bebasnya  di udara yang dia hirup dan semuanya cuma-cuma Allah berikan asal saja kita mau bersyukur atas nikmatnya…..

Asthma adalah salah satu penyakit yang mengenai salah satu  saluran nafas (bronkus & bronchiolus ) biasanya,  dimana saluran tersebut menyempit  dan biasanya menimbulkan bunyi ngik ( wheezing ) yang keras pada saat ekspirasi karena sesuatu hal yang dapat dijelaskan pada uraian berikut di bawah ini.

Asma adalah penyakit yang ditandai oleh obstruksi Jalan Nafas variable, kambuhan dan reversible dengan episode intermiten mengi dan dispnea.

Asma diklasifikasikan ke dalam enam type utama :

  1. Asma ekstrinsik

    Disebabkan oleh Alergen inhalasi ( missal : debu, embun berdebu, jamur, serbuk, bulu, dan rontokan bulu binatang), dan di obati dengan imunnoglobulin E (IgE)

  2. Asma intrinsic

    Disebabkan oleh infeksi ( sering virus) da rangsangan lingkungan seperti ( polusi udara), tanpa alergi yang menimbulkan gatal

  3. Asma Campuran

    Dimana reaktivitas tipe I (segera) tanpa dikombinasi dengan factor intrinsic

  4. Asma akibat Aspirin

    Disebabkan oleh konsumsi aspirin dan zat yang sejenis

  5. Asma akibat Latihan

    Dimana gejala pernafasan terjadi dalam 5 sampai 20 menit setelah latihan.

  6. Asma okupasi

    Disebabkan oleh asap industry, debu, dan gas.

Asma akut dan berat yang gagal berespons pada bronkodilator disebut status asmatikus dan adalah kedaruratan medis. Komplikasi lain meliputi pneumonia, atelektasis, dehidrasi, disritmia, kor pulmonal, gagal nafas dan kematian.

Pengkajian

  1. Perasaan sesak dada
  2. Episode Batuk
  3. Mengi, Dispnea
  4. Ansietas, ketakutam
  5. Pernafasan cuping hidung, penggunaan otot tambahan

Intervensi Keperawatan

  1. Pantau tanda vital, warna kulit, dan derajat kegelisahan, yang dapat menunjukan hipoksia
  2. Pantau fungsi jalan nafas melalui puncak flow meter atau spirometri untuk mengkaji efektifitas obat.
  3. Pantau Saturasi oksigen melalui oksimetri jari dan hubungkan pada pengukuran gas darah arterial sesuai indikasi.
  4. Berikan nebulasi dan terapi oksigen sesuai ketentuan
  5. Anjurkan masukan cairan untuk mengencerkan sekresi.
    1. Hindari air es, yang dapat menyebabkan bronkospasme
    2. Hindari minuman berkarbonat, yang dapat menimbulkan asidosis
  6. Instruksikan pasien mengubah posisi untuk memudahkan pernafasan, sebagai contoh, duduk tegak (tegak lurus ke meja)
  7. Lakukan terapi fisik dada dan drainase postural untuk memobilisasi sekresi sesuai kebutuhan
  8. Anjurkan pasien untuk menggunakan pernafasan lewat mulut untuk menurunkan kerja pernafasan.
  9. Berikan Pendidikan Kesehatan pada keluarga
    1. Informasi tentang sifat asma dan metode tindakan, termasuk penggunaan alat inhalasi yang tepat; ingatkan terhadap penyalahgunaan alat inhalasi dan nebulizer.
    2. Tunjukan penggunaan flow meter puncak dan pencatatan pengukuran aliran puncak
    3. Bantu pasien untuk mengidentifikasi apa yang mencetuskan asma, waspada terhadap ancaman serangan, dan strategi untuk mencegah serangan, informasikan hubungan antara stress emosi dengan munculnya serangan asma.
    4. Ingatkan pasien untuk menghindari penggunaan pil tidur setelah serangan asma, karena obat ini memperlambat pernafasan dan membuat nafas makin sulit.
    5. Ajarkan latihan nafas dalam untuk mencegah atelektasis. Anjurkan latihan pernafasan untuk anak di rumah, seperti meniup bola kapas di atas meja, atau meniup gelembung besar sabun.
    6. Diskusikan metode control lingkungan ; hindari individu dengan infeksi pernafasan; hindari zat dan situasi yang diketahui mencetuskan bronkospasme, seperti iritan, gas, asap dan uap; gunakan syal melingkari mulut dan hidung bila udara dingin mencetuskan bronkospasme; Anjurjan untuk tinggal di ruangan bila polusi udara tinggi.
    7. Tingkatkan praktik kesehatan optimal, termasuk nutrisi istirahat dan latihan
    8. Bantu keluarga untuk mempertahankan perasaan normal pada setiap aktivitas meskipun penyakit kronis. Anjurkan konseling sesuai kebutuhan.

CATATAN PENTING BAGI PERAWAT

TENTANG STATUS ASMATIKUS

Status amatikus adalah bentuk hebat dari asma akut, dimana obstruksi jalan nafas tahan terhadap terapi obat konvensional dan berakhir lebih dari 24 jam. Kecuali diatasi dengan segera, Status asmatikus berlanjut pada gagal pernafasan.

Karakteristik status asmatikus.

  1. Sulit bernafas dengan peningkatan usaha pada ekspirasi
  2. Distensi vena leher dan wajah
  3. Keletihan, sakit kepala, peka rangsang, pusing, kerusakan fungsi mental yang disebabkan oleh hipoksia.
  4. Kedutan otot, somnolens, diaphoresis yang disebabkan oleh retensi CO2.
  5. Takikardi, peningkatan tekanan darah
  6. Gagal Jantung dan kematian karena asfiksia.

    MANAJEMEN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN PADA STATUS ASMATIKUS

    1. Pantau arter gas darah (AGD), tekanan darah, EKG dan frekuensi pernafasan secara kontinu
    2. Berikan pengobatan aerosol berulang seperti bronkodilator seperti albuterol. Namun berikan dengan kewaspadaan sampai asidosis metabolic dan respiratorik serta hipoksemia telah dikoreksi.
    3. Berikan aminophylin sesuai ketentuan melalui infuse IV. Hati-hati terhadap tanda toksisitas teofilin (takikardi, mual, muntah, gelisah, pusing)
    4. Berikan kortikosteroid IV untuk mengatasi inflamasi jalan nafas. Karena obat ini bekerja lambat, efek menguntungkannya mungkin tidak tampak dalam beberapa jam.
    5. Berikan cairan untuk mengatasi dehidrasi dan menghilangkan sekresi.
    6. Berikan oksigen lembab kontinu melalui nasal kanula sesuai dengan ketentuan. Gunakan oksigen dengan hati-hati pada pasien dengan penyakit paru obstrukstif menahun, karena hipoksemia merangsang kendali pernafasan mereka.
    7. Lakukan ventilasi mekanis untuk asidosis berat, hipoksemia atau keletihan pernafasan.
    8. Lakukan fisioterapi dada (perkusi dan fibrasi dinding dada), berikan ekspektoran dan obat mukolitik sesuai ketentuan, dan penghisapan bila diperlukan untuk mencegah obstruksu karena sekresi. Bronkoskopi , mungkin dibutuhkan.
    9. Hilangkan ansietas dan ketakutan pasien dengan bertindak tenang dan yakinkan terus pasien selama serangan. Tetap bersama dengan pasien sampai serangan berkurang.

    DAFTAR PUSTAKA

    Sandra M. Netina. 2002. Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku kedokteran EGC.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: