GHIBAH DALAM KEHIDUPAN KITA

GHIBAH DALAM KEHIDUPAN KITA

Wahyudi Hermawan

Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada yang menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada  pula yang hanya mendengar suara.

Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi  mendapatkan perintah yang berbunyi, “Besok  engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi untuk menuju  ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang engkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya.”

Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, “Aku diperintahkan untuk memakan yang  pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan.”

Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Ketika ditelan ternyata terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur ‘Alhamdulillah’.

Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu menemukan  sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan langkah kedua dalam mimpinya  yaitu supaya disembunyikan,  kemudian Nabi itu pun menggali sebuah lubang dan dikuburnya mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu keluar kembali. Nabi itu pun menguburnya lagi  sampai  tiga kali berturut-turut.

Maka berkatalah Nabi itu, “Aku telah melaksanakan perintahmu.” Lalu dia pun meneruskan perjalanannya meskipun tanpa disadari oleh Nabi itu bahwa mangkuk emas yang di kubur itu ternyata tetap keluar lagi dari tempat dimana dia telah menguburnya.

Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia melihat seekor burung Elang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, “Wahai Nabi Allah, tolonglah aku.”

Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu sesuai dengan langkah ketiga yang  telah diperintahkan dalam mimpinya dia pun mengambil / menerima permintaan  burung itu dan memasukan burung itu  ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung  Eelang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, “Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku.”

Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, yaitu dia  tidak boleh memutuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pahanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat daging itu, Elang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya.

Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia menemukan bangkai yang amat busuk baunya, maka  sesuai dengan perintah kelima dalam mimpinya dia pun bergegas lari dari situ karena tidak tahan mencium bau yang menusuk hidungnya. Setelah menemui kelima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, “Ya Allah, aku telah melaksanakan semua perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku arti  dari semua ini.”

Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahawa, “Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.

Kedua; adalah amal kebaikan, semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan terlihat juga.  Ketiga; adalah amanah,  jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu mengkhianatinya. Keempat; permintaan tolong, jika orang meminta tolong kepadamu, maka selama itu tidak melanggar ketentuan Allah,  usahakanlah untuk sebisa mungkin membantu meringankan bebannya meskipun engkau sendiri  sedang berhajat. Kelima; bau yang busuk itu ialah ghibah (membicarakan orang lain). Maka larilah segera  dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah.”

Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini seringkali kita dapatkan  dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita hindari  setiap hari ialah membicarakan  orang lain padahal kita sendiri  masih banyak memiliki keterbatasan dan kekurangan, memang seringkali menjadi tabiat seseorang dimana membicarakan orang lain itu adalah sesuatu yang dianggap menyenangkan dan menarik hatinya. Kita harus menyadari bahwa ketika kita membicarakan keburukan orang lain, maka   itu sebenarnya akan menghilangkan pahala kita dimana pahala kita akan berpindah kepada orang yang kita bicarakan, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, “Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Engkau berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu.”

Maka berkata Allah S.W.T., “Ini adalah pahala orang yang membicarakan tentang keburukan dirimu.” Dengan ini haruslah kita sadar bahwa walaupun apa yang katakan tentang orang lain yang kita bicarakan itu memang benar, tetapi membicarakan keburukan orang lain itu  sebenarnya hanya  akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan membicarakan keburukan orang lain walaupun apa yang kita bicarakan itu  benar adanya.

Sahabatku para perawat….

Hari-hari kita selalu dihadapkan pada sesuatu yang mungkin harus kita jaga sebagai kehormatan atau sesuatu yang sangat pribadi bagi klien atau pasien yang kita rawat. Jangan pernah terbetik dalam hati kita untuk membicarakan klien kita, apalagi keburukannya, meskipun keburukan yang kita terima dari klien kita sungguh benar adanya dan telah menyakiti hati kita.

Berharaplah Allah SWT akan melimpahkan pahala kesabaran diri kita sebagai seorang perawat yang senantiasa melayani kliennya dengan penuh kasih sayang meskipun sebenarnya kitapun sebagai seorang perawat adalah seorang manusia pula.

Saya memahami jikalau sebagai seorang perawat andapun mungkin tidak akan pernah terlepas dari masalah-masalah kehidupan yang  harus anda hadapi. Saya tahu anda mungkin saja resah karena di rumah anak anda tengah sakit, sayapun tahu mungkin  di rumah Ibu  atau ayah anda tengah tergolek lemah dan memerlukan perawatan khusus dari anda, atau mungkin hari ini anda sudah kehabisan uang untuk  resiko hidup keluarga anda padahal menunggu gaji masih lama sampai akhir bulan, tapi ketika kita menghadapi klien atau pasien kita……

Jangan pernah kita perlihatkan kesedihan kita sebagai manusia biasa, karena  klien kita adalah orang yang sedang bersedih pula…..

Jangan pernah membalas kemarahan klien/pasien kepada kita karena  ketika seorang pasien yang sedang sakit, yang sakit bukanlah fisiknya saja…pikirannya pun mungkin menjadi resah karena dia memikirkan banyak hal yang mungkin harus dia tinggalkan karena ketidakberdayaannya menjadi orang yang sakit. Klien kita mungkin memikirkan  apakah penyakitnya bias sembuh atau tidak, apakah  dia mampu membayar biaya perawatan yang semakin hari semakin bertambah, obat-obatan yang sepertinya tidak ada yang murah lagi, keluarga di rumah yang ditinggalkannya karena dia sakit, kewajibannya di kantor yang semakin menumpuk, dan hal-hal lainnya yang tentunya akan berdampak pada kemampuan dia dalam menghadapi krisis….sehingga pada akhirnya klien kita menjadi rapuh, mudah tersinggung ataupun mudah marah.

Kitalah yang harus mengalah…..bukan klien atau pasien kita…..karena seandainya kita selalu mengalah…semuanya akan menjadi terasa ringan dan akan menjadi manis semanis madu. Mungkin suatu saat ketika beban hidup dan masalah klien kita sudah teratasi, klien kita sudah sembuh dari penyakitnya, dia akan menyadari betapa kita menyayanginya, memahaminya dan memandangnya secara utuh sebagai seorang manusia yang sakit tidak hanya fisiknya saja.

Ketika dia menyadari itu, Insya Allah klien kita akan menyadari bahwa kemarahannya kepada kita bukanlah sesuatu yang benar…..dan kita jangan pernah meminta klien kita untuk dating meminta maaf kepada kita atas kesalahannya…. Biarkanlah hati klien kita tersebut menjerit ke atas langit untuk mengatakan ….Ya Allah kemarin hamba telah memarahi seorang perawat yang telah merawat hamba dengan penuh kasih sayang…. Dia tidak pernah membalas kemarahan hamba meskipun ternyata kini hamba sadar hamba sebenarnya perawat itu tidaklah bersalah….hambalah yang bersalah….  Ya Allah….jadikanlah perawat itu sebagai perawat yang menjadi ahli surga, mudahkanlah hidupnya, perbanyaklah rezekinya, jadikanlah dia perawat yang  disayangi oleh siapapun karena dia telah menyayangi hamba dengan tulus…….

Inilah manis madu yang akan kita nantikan dari kemampuan kita menahan amarah kita …..klien atau pasien adalah raja kita…..layanilah dia sebaik-baiknya dengan mengharapkan Ridho dari Raja Semua Raja, penggenggam jiwa dan pemilik hati kita……Allah SWT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: